Jurnal Kanker: Mencoba Jalur Herbal?

Jakarta, 9 April 2025

Disclaimer dulu, tulisan ini sifatnya opini dan pengalaman pribadi ya. Aku tidak menjelekan suatu pilihan. Pilihan pengobatan untuk pasien kanker memang bisa sangat beragam. Jadi aku hanya membahas apa yang aku alami. Dari awal aku sudah cerita mengenai bagaimana aku menemukan benjolan pertama menggunakan gerakan SADARI. Bisa dibilang, aku cuku aware atau waspada atas kondisi kesehatan dan tubuh. Bukan hanya waspada terhadap kanker payudara, tapi semua jenis penyakit. Itu merupakan bentuk rasa syukur aku kepada Tuhan atas pemberiannya, yaitu tubuh yang sehat. Caranya bagaimana? Ya itu salah satunya dengan memperhatikan tubuh dari ujung kaki ke kepala. Apakah ada perubahan, benjolan, bercak baru yang mungkin bisa menandakan adanya suatu penyakit. Selain itu, aku rutin cek darah sekitar 1-2x setahun, untuk mengecek organ dalam tubuh yang tidak bisa kita lihat atau raba, seperti fungsi hati, fungsi liver, gula darah dan kolesterol.

Aku juga aware terhadap banyaknya pengobatan herbal atau suplemen herbal dengan beragam klaim. Misalnya rajin konsumsi bawang putih, baik untuk menurunkan kolesterol, tekanan darah, dan seterusnya. Banyak klaim tersebut sudah diteliti secara medis, namun banyak klaim pengobatan herbal juga yang belum didukung oleh penelitian. Saat aku berkenalan dengan kanker kemarin itu, aku berusaha untuk memilah informasi dan memahami posisi yang aku miliki. Jika sudah kenalan dengan kanker, kita sama-sama tahu bahwa faktor waktu sangat penting. Jangan sampai terlambat, karena stadium bisa naik terus. Karena stadiumnya masih awal, kondisi aku masih fit gres gres banget ya. Hasil cek darah juga bagus semua. Kanker ini baru muncul dan belum mempengaruhi kondisi kesehatan aku. Kesempatan sembuhnya tinggi, jadi sayang kalau sampai tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Sehingga aku memutuskan untuk mengejar kemungkinan sembuh yang paling besar dulu, yaitu dengan pengobatan medis.

Setelah operasi aku lanjut kemoterapi. Karena kemoterapi ini sangat berat, aku berhati-hati dengan apa yang aku makan karena aku takut bentrok antara pengobatan herbal dengan kemoterapi. Pasien lain mungkin bisa memiliki pengalaman yang berbeda. Tapi untuk kasus aku, mengingat jenisnya, keganasannya, dan stadiumnya, aku memilih untuk menempuh jalur medis. Untungnya badan aku merespon pengobatan ini dengan baik, jadi aku bisa melalui hari-hari kemoterapi dengan lebih nyaman. Selama kemo ini, aku banyak makan makanan yang tinggi protein seperti kaldu (broth) dan daging. Sayur dan buah juga tidak ketinggalan. Aku juga rutih berolah raga setiap aku merasa mampu. Mungkin nanti setelah selesai kemoterapi, untuk mempertahankan status bebas kanker, aku akan mengadopsi beberapa pilihan pengobatan herbal agar si sel kanker tidak kembali lagi.

Leave a comment

Website Built with WordPress.com.

Up ↑